Filosofi Bus Mewah Orang-orang yang Lupa Tujuan dari Herbert Marcuse


SCALEUPJOURNEY - Salam hormat sahabat baik Journian semua, senang rasanya bisa bertemu sapa kembali dalam sebuah tulisan-tulisan ringan di Scale Up Journey.

Kami harap, Journian semua senantiasa bertumbuh lebih baik di setiap harinya dan senantiasa diberikan tekad yang kuat untuk mempelajari ilmu.

Tulisan ringan kali ini, kita akan membahas secara ringkas dan ringan yang berkaitan dengan filsafat, tentunya filsafat yang berkaitan dengan hidup, kita akan membahas sebuah gagasan filosofi seorang filsuf Jerman bernama Herbert Marcuse.

Baca juga : Membangun Mental Resilience

Sebelum jauh membahas filosofi Bus mewah dari Herbert Marcuse, sebagai penghormatan terhadap pemikirannya, kita akan membahas sekilas terlebih dahulu terkait siapa itu Herbert Marcuse.

Dikutip dari Wikipedia, Herbert Marcuse (19 Juli 1898 – 29 Juli 1979) adalah seorang filsuf Jerman-Yahuditeoretikus politik dan sosiolog, dan anggota Frankfurt School. Dikenal sebagai "Bapak gerakan Kiri Baru", karya terbaik yang dikenal adalah Eros and CivilizationOne-Dimensional Man, dan The Aesthetic Dimension. Marcuse adalah intelektual yang memberi pengaruh besar pada gerakan Kiri Baru dan gerakan mahasiswa pada tahun 1960-an.

Baca juga : Belajar Bebenah ala Teteh Konmari, Seni Hidup Minimalis dan Bebenah Hidup

Herbert dikenal juga sebagai filsuf abad 20, dalam beberapa karya-karyanya, Herbert melihat pergerakan dunia yang semakin lama semakin cepat, berkembangnya teknologi membuat segala sesuatu seolah tak memiliki jarak. Dan, kecepatan tersebut celakanya ada dalam pelukan kapitalisme materialistik.

Dalam filosofi Bus mewah yang dikemukakan oleh Herbert Marcuse, ia mengibaratkan manusia-manusia di pasca modern ini seperti para penumpang yang naik dan masuk ke dalam Bus Mewah, di dalam Bus mewah tersebut tersedia segalanya, pokoknya sangat mewah, fasilitasnya lengkap. Misalnya tersedia tempat tidur, wine, berbagai macam hiburan dan lain sebagainya, manusia hidup dalam kecepatan dan percepatan di dalam Bus mewah tersebut.

Namun, ada satu hal yang mereka lupa, yaitu tujuan dari pada Bus tersebut, mereka sudah lupa ketika masuk ke dalam Bus mewah, dengan segala hingar bingar, kenikmatan dan segala hiburan yang ada di dalamnya membuat para penumpang menjadi terlena, sehingga mereka tak peduli lagi tujuan Bus tersebut akan kemana, apakah Bus tersebut akan ke jurang, para penumpang sudah tak peduli lagi.

Baca juga : Self Discovery : Berhenti Overthinking, Mari Kenali Diri Sendiri

Mau apapun dan kemana pun Bus tersebut, yang penting fasilitasnya mewah, yang penting saya nyaman, itulah kondisi era percepatan teknologi dalam pelukan kapitalis materialistik.

Manusia di buat nyaman dengan segala kemudahan yang ada di dalamnya, hingar bingar, berlomba- lomba tentang kemewahan dan kemegahan, tapi pada akhirnya mereka lupa dan tidak tahu jika itu semua untuk apa, akan kemana dan akhirnya seperti apa, mereka semua kebingungan dan kehilangan arah.

Seperti itulah Herbert Marcuse menggambarkan kondisi di era kapitalis dalam percepatan teknologi, sekarang, apapun yang ditawarkan adalah kecepatan.

Pelayanan, hiburan, bisnis dan segala-galanya yang sekarang dijual adalah kecepatan, serba instan, layanan instan.

Baca juga : Soulfulness, Manusia, Lupa, Kerja dan Uang Sampai Mati

Sekarang tak perlu lagi menunggu berhari-hari untuk memesan barang di marketplace, sehari order bisa sampai hari itu juga, begitu pun dengan paket liburan dan hiburan, cukup dari genggaman tangan.

Dan, segala hal yang bisa menimbulkan pemborosan tanpa sadar akan dilakukan oleh pemilik Bus mewah tersebut, demi mencuci otak manusia, para spekulan kapitalis "yang membuat Bus mewah tersebut", mereka menggunakan berbagai cara demi sebuah keuntungan. Demi keuntungan semata, maka semua disediakan dengan serba cepat.

Segala kecepatan dan kenikmatan itu pada akhirnya membuat manusia lupa akan tujuannya. Akan kemana kah segala muara hidup dan segala perolehan yang didapatkan?. 

Sedangkan, menurut Herbert, segala fasilitas  kenikmatan dan kemudahan yang disediakan tidaklah gratis, ada yang harus dibayar untuk segala sesuatu, maka bayaran bagi mereka yang menjadi penumpang Bus mewah adalah jiwa mereka sendiri.

Baca juga : Skill Termahal Yang Tak Disediakan Oleh Berbagai Institusi Pelatihan

Manusia-manusia yang kehilangan jiwanya akan kehilangan arah dalam hidupnya, mungkin untuk sementara waktu mereka akan merasakan segala kenikmatan dan fasilitas mewah yang melenakan tersebut, tapi mereka tak sadar bahwa mereka harus membayar itu semua dengan jiwanya.

Apakah Bus mewah percepatan kapitalis materialistik tersebut akan membawa mereka ke jurang kehampaan, ke dalam jurang kekosongan yang penuh tanda tanya? Kita tak tahu. Biarkan waktu yang akan menjawabnya. 

(Dipa Amarta Wikrama / Sanik Radu Fatih)***

2 Komentar

  1. Balasan
    1. Terima kasih banyak Mas Imam telah berkunjung ke Scale Up Journey, rajin-rajin berkunjung ke ke sini ya kak, kita bisa diskusi dan bertukar pikiran. Semoga bermanfaat 🙏🏼

      Hapus
Posting Komentar
Lebih baru Lebih lama