Pahamilah Luka dan Sebab Sakitmu (Teori Enright Model) bagian 3 (Tamat)


Setelah jelas duduk perkaranya, selanjutnya kita masuk ke decision phase, yaitu fase berpikir untuk memutuskan, apakah hal tersebut pantas untuk kita maafkan, apakah hal tersebut layak untuk kita pikirkan terus menerus, apakah hal tersebut pantas untuk mendapatkan kemarahanmu, apakah hal tersebut layak untuk membuat kita sakit dan menderita.

Padahal, misalnya dia sudah bersama orang lain, dia sudah menikah. Bila sudah tahu seperti itu, tinggal kita memutuskan akan bersikap seperti apa? Apakah akan terus kesal dan kecewa, atau akan menerima dan bangkit dari keterpurukan, kemudian menjadikan diri lebih baik, lebih bernilai dan berharga.

Atau misalnya, kita sudah dinyatakan tidak lolos seleksi dan tidak bisa melanjutkan ke tahap selanjutnya, jika kecewa, marah dan kesal pun, maka hasil seleksi dari panitia pun tidak akan berubah, tinggal kamu sendiri yang memilih akan bersikap apa terhadap hal tersebut.

Itu hanya contoh case saja, tapi hal tersebut juga bisa diaplikasikan kepada sebuah kejadian ataupun peristiwa yang kita alami atau hal lainnya yang relevan.

Setelah itu, apakah kita mau memaafkan ataukah tidak terhadap hal tersebut, maukah kita mengakui dan menerima keadaan tersebut. Kemudian, jika kita memaafkan dan menerima kondisi tersebut, maka dampaknya apa, manfaatnya apa untuk kita ke depan.

Tapi, bila misalnya kita memilih untuk membenci dan marah, konsekuensinya apa, dampaknya apa, misalnya siap-siaplah menanggung beban berat dan sesaknya kebencian, kecewa serta amarah.

Memaafkan dan menerima keadaan dengan realitasnya adalah pilihan yang bisa kamu tentukan, silakan tentukan pilihanmu, jika kamu sudah mengetahui akar masalahnya, setelah memikirkan dan memahami akar masalahnya, maka kemudian silakan menentukan sikap, fase ini disebut sebagai decision phase, yaitu fase berpikir untuk memutuskan pilihan.

Setelah memikirkan dan memutuskan akan bersikap seperti apa, fase berikutnya adalah work phase, yaitu fase bekerja atau action. Misalnya, kita memilih untuk memaafkan, ya sudah, misalnya kita menerima dan memaafkan, karena siapa tahu nanti saya yang butuh maaf orang lain, atau misalnya ternyata kejadian gagal saya diseleksi ini bisa memberikan pengalaman dan pembelajaran untuk ujian di tahun mendatang.

Atau, bila berkaitan dengan sebuah hubungan yang sudah berakhir. Misalnya, ya sudah kita jalan masing-masing, kamu menjalani hidupmu dengannya, dan aku pun menjalani hidupku.
Aku akan mencari dan menemukan pasangan yang lebih baik dan baik juga untuk hidupku, misalnya seperti itu.

Jika casenya adalah misalnya seleksi beasiswa, mencari pekerjaan ataupun usaha (bisnis) kemudian belum berhasil dalam prosesnya, misalnya gagal dapat beasiswa, lamaran kerja tidak lolos, usaha kolaps. Kemudian kita berkata jujur kepada diri sendiri

"Baiklah, aku menerima keadaan ini, aku tahu aku belum berhasil, aku sadar lamaran kerjaku ditolak, aku menerima keadaan bisnisku yang kolaps. Setelah ini, aku akan mempelajari setiap kegagalan dan kesalahan atau pun kekurangan yang ada dalam prosesnya, agar nanti aku bisa perbaiki, dan di waktu yang akan mendatang, aku bisa pantas mendapatkan apa yang aku perjuangkan"

Di work phase, yaitu kita mulai kembali bekerja dan menata ulang serta menyusun strategi dan rencana yang lebih baik, kamu bangkit dari keterpurukan, bangkit dari luka, bangkit dari rasa sakit dan kecewa. Kamu sudah mulai bergegas dan mempersiapkan diri untuk banyak melakukan hal-hal luar biasa di hidupmu.

Fase lebih tinggi setelah work phase adalah deepening phase, yaitu kita belajar dan memahami hakikat kehidupan dan hakikat manusia. Spiritualitas dan jiwanya semakin berkembang, ia mau mengambil hikmah dan pembejaran dari setiap peristiwa yang dialami dan dilaluinya.

Misalnya, dia sadar bahwa kehidupan memang demikian, sifat manusia memang demikian, segala peristiwa kehidupan di dunia memang begitu adanya. Kita sadar bahwa kita tidak bisa memaksakan kehendak terhadap peristiwa dan keadaan yang menimpa. Dan, memang begitu lah sifat manusia (manusia yang belum belajar), yaitu selalu ingin lebih dan lebih.
 
Tapi, selepas dari setiap kejadian yang menimpanya, ia sadar bahwa Tuhan melalui alam semesta memiliki hukum dan aturannya tersendiri, ada pertemuan ada perpisahan, ada lahir, ada mati, ada siang, ada malam; ada sehat, ada sakit; ada kecewa, ada bahagia. Ia telah menyadari dan menghayati hakikat dan makna dari sifat kehidupan.
Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama