Pahamilah Luka dan Sebab Sakitmu; Recorvery Soul Healing (Metode Enright Model) bagian 1

Rasa sakit itu tidak enak, tak nyaman, menyakitkan. Tapi, bagaimanapun, kita tak mungkin menghindari rasa sakit. Karena, sakit, senang, luka, duka, bahagia, gembira, semua itu akan selalu hadir mengiringi langkah hidup umat manusia, tinggal bagaimana cara kita mengelola dengan baik dari setiap rasa yang hadir di kehidupan kita.

Sekarang, kita akan membahas dan membongkar tentang rasa sakit, luka, duka dan semacamnya.

_________________
Sakitmu dimana?
Apa alasan kamu sakit atau merasa luka terhadap hal tersebut?

Kita akan belajar tentang uncovering phase, decision phase, work phase, dan deepening phase, untuk membongkar dan mendiagnosa tentang segala sakit dan derita yang mungkin dialami jiwa kita dan kebanyakan manusia lainnya.

Forgiveness is Choice, memaafkan itu pilihan. 
jika kita mau memaafkan, nikmati manfaatnya.
jika tak mau memaafkan, silakan juga nikmati berat, sakit dan sesaknya kebencian. Memaafkan dan menerima disini bukan hanya terbatas pada obyek personal, tapi juga bisa kepada suatu peristiwa atau kejadian.

Sahabatku semua, kali ini kita akan belajar tentang pengembangan jiwa konsep Enright Model, yang mengemukakan teori ini adalah  Robert Enright. Enright model yaitu sebuah pembelajaran aplikatif bagaimana kita mengelola dan memahami tentang luka, sedih, marah, kebencian dan hal-hal yang semisal dengan hal tersebut.

Di dalam Enright model, ketika kita dihadapkan dengan masalah atau luka, maka kita harus memahami dengan jelas terkait duduk perkara terhadap apa yang menjadi penyebab dari rasa sakit, derita atau luka tersebut.

Metodenya sama halnya seperti dokter, ia akan mendiagnosis dan mencari apa yang menjadi penyebab dari sakit sang pasien, setelah diketahui penyebab dari sakitnya, setelah jelas penyebabnya, barulah dokter akan memberikan treatment atau penanganan yang tepat.

Intinya, Enright mengajarkan agar kita semua bisa belajar mendiagnosa penyebab masalah, menemukan akar masalah. Sadar terhadap akar dari penyebab masalah tersebut, yaitu (kecewa, sakit, derita dll). Setelah memahami, menyadari dan mengetahui penyebabnya, kemudian kita mencari jalan keluar dan solusi untuk menanganinya.

Untuk menyelesaikan segala masalah, hal yang paling utama adalah menemukan akar masalahnya terlebih dahulu. Di dalam Enright model, kita akan mempelajari uncovering phase, decision phase work phase, dan deepening phase.

Metode pertama adalah Uncovering Phase, yaitu fase membuka, menerima realitas dan memahami keadaan sebagaimana adanya. Di fase ini, kita mengungkapkan dengan jujur segala realitas yang terjadi sebagaimana adanya dengan alamiah.

Ungkapkanlah, pahamilah, kenalilah, selami rasa marahmu, kenali rasa kebencian, kecewa, sakit dan sedihmu. Misalnya, kenapa kamu marah kepada dia, kenapa kamu benci pada dia dan kenapa mesti benci atau merasa sakit dan luka.

Kenapa kamu harus merasa kecewa terhadap peristiwa tersebut, kenapa kamu harus bersedih, marah atau kesal atas kejadian yang menimpamu.

Karena, jika tidak kita kenali, maka sifat-sifat dan keadaan tersebut (seperti marah, benci, dendam, merasa gagal dan sejenisnya) akan membuat jiwa menderita dan terluka. Kenali dan bongkarlah rasa marah, sakit dan sedihmu. Kenapa kamu harus marah, kenapa kamu harus sedih terhadap hal dan kejadian tersebut. Kemudian pahami, layakkah dan pantaskah hal tersebut untuk membuat kita marah dan kecewa.

Misalnya, sering kali terjadi kasus seperti ini, kenapa kamu benci pada orang tersebut, kenapa kamu marah kepadanya. Saat ditanya, malah jawab seperti ini.

"Gak tau juga sih, cuma lihat di snap Wa dan dengar dari temen-temen, mereka pada marah dan benci ama orang itu, yaudah ikut-ikutan aja, biar ramai, biar gak sepi Wa nya,"

Atau misalnya, kenapa kamu marah dan kecewa saat gagal mendapatkan A, B atau C. Misal, kenapa kamu musti kecewa ketika gagal mendapatkan beasiswa, gagal wawancara kerja, gagal menikah atau pun sejenisnya.  Kenapa kamu harus merasa kecewa atau marah dan kesal ketika mengalami gagal dalam proses itu. Sudahkah kamu temukan alasannya?

Nah, hal seperti demikian kan sangat tidak berdasar, tiba-tiba ikut-ikutan marah, tiba-tiba ikut benci, tiba-tiba kecewa, saat ditanya marah dan bencinya kenapa, ternyata cuma ikut-ikutan atau cuma karena kesal aja.
Hal itu hanya akan menghabiskan energi dan waktu kita saja. 

Saat ditanya kecewa kenapa, sedih kenapa, kesal kenapa, kemudian dijawab

"ya kesal aja udah belajar capek-capek, udah jauh-jauh test, segala macam, malah gak lolos,"

Oh jadi kesalnya karena udah capek belajar tapi malah gak lolos. Kalau begitu, seharusnya sedari awal tak perlu belajar, karena dia berpikir dan berharap bahwa belajar pasti menjamin keberhasilannya, artinya ia bergantung pada belajar yang dilakukannya.

Padahal, yang belajar bukan cuma diri kita, yang berusaha sungguh-sungguh bukan hanya diri kita, jutaan orang di luar sana pun melakukan hal yang sama untuk menggapai hal dan tujuan yang mungkin juga sama dengan apa yang ingin kita raih, itu artinya ada banyak kompetitor, yang juga menginginkan hal tersebut, bukan hanya kita, tapi juga jutaan bahkan milyaran orang di luar sana menginginkan hal yang sama dengan apa yang kita inginkan. Baca bagian 2
Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama