4 Titik Fase dan Pola Hidup Manusia : Reflection Point (2)


SCALEUPJOURNEY - Rahayu lan Selamet sahabat Journian semua, semoga senantiasa tiasa dikaruniai kesehatan dan ketenangan hidup di tengah-tengah dunia yang semakin hiruk pikuk dan bising.

Sesuai janji yang sebelumnya, saya akan membahas terkait 4 titik fase dan pola hidup manusia, sebelumnya, kita telah membahas tentang titik jatuh, kali ini, kita akan membahas tentang titik refleksi, titik cermin atau reflection point.

Fase ini adalah salah satu titik yang bisa menjadi penentu hasil akhir, karena, titik ini adalah termasuk titik yang paling krusial. 

Sebab, di momen inilah kita akan berkaca, melakukan perenungan, melihat diri dan kejadian secara utuh. Jika keliru atau salah dalam melihat pantulan diri atau refleksi terhadap suatu kejadian atau momen, maka hal itu bisa berakibat fatal.

Baca juga : 4 Titik Fase dan Pola Hidup Manusia : Falling Point Phase atau Fase Titik Jatuh

Misalnya, jika posisi, jarak dan sudut pandang kita tepat dalam bercermin maka cermin itu akan memantulkan wujud kita atau pun kejadian secara utuh. Tapi, jika kita keliru dalam menentukan posisi, jarak dan sudut pandang, bukannya bayangan diri atau peristiwa utuh yang terlihat di cermin, justru yang kita lihat  malah sosok aneh, monster mengerikan atau gambaran imajiner yang menyeramkan dan menakutkan. Oleh sebab itu, titik refleksi termasuk ke dalam titik yang paling krusial dan menentukan bagi perkembangan diri seseorang.

Reflection Point

Setelah fase titik jatuh, maka titik selanjutnya adalah titik refleksi. Selayaknya setelah kita terjatuh, kita tidak mungkin langsung serta merta bisa bangkit atau bangun begitu saja. 

Walau pun bisa dan dipaksakan untuk bangkit, pasti pada akhirnya akan mudah ambruk, bahkan terjatuh yang lebih parah dan menyakitkan.

Di momen refleksi ini, ibaratnya kita sedang berupaya melakukan pemeriksaan dan pengobatan untuk pemulihan diri, oleh sebab itu harus ditangani dan diobati dengan tepat.

Tips yang bisa dibagikan di titik refleksi ini yaitu kita "mencoba melihat lagi semuanya, seluruhnya secara utuh, melihat ke dalam dan ke luar".

Baca juga : Sejati ning Urip dan Zaman Edan

Misalnya, kita mengalami titik jatuh dengan kondisi karir ambyar atau misalnya dililit banyak hutang, gagal beasiswa, gagal nikah, dan lain sebagainya. Coba lakukan refleksi, renungi dan lihat lagi kejadian tersebut secara utuh, apa yang menyebabkan diri kita mengalami hal tersebut, apakah karena ada faktor dari diri kita sendiri atau ada pengaruh dari luar.

Lakukan inventarisir masalah dan mapping satu persatu masalah tersebut, temukan akar penyebabnya dan yang paling utama adalah coba lah melihat jauh ke kedalaman jiwa kita.

Mencoba belajar untuk diam sejenak, untuk berkomunikasi pada diri sendiri, berdialog terhadap diri sendiri, apa sekiranya hal yang mesti diperbaiki oleh diri kita, seperti apa jalan pikiran atau mindset yang mesti dibangun, apa yang sebaiknya dan seharusnya dilakukan.

Baca juga : Rahasiakan Hidupmu

Titik refleksi adalah momen di mana kita berkesempatan untuk melakukan perenungan utuh dan mendalam, bertanya pada kedalaman jiwa kita yang murni, yang sejati, yang mungkin selama ini sering kali kita abaikan.

Coba dengarkan baik-baik, bukalah pikiran dan hati kita dengan jernih, sehingga kita bisa melihat dengan utuh terhadap apa yang sesungguhnya terjadi.

Jika menggunakan metode spiritual, bisa disesuaikan dengan keyakinan yang dianut oleh masing-masing individu. Misalnya, bagi orang muslim, ia bisa melakukan sholat malam atau tahajjud, kemudian arahkan qiblat hati hanya kepada Allah semata, setelah selesai sholat, lalu diam sejenak dengan posisi duduk tahiyat akhir atau bersila, kosongkan pikiran dan arahkan qiblat hati seutuhnya hanya kepada Allah, fokus hanya kepada Allah.

Cukup diam saja atau bisa dibarengi dengan dzikir dalam hati, tidak dzikir pun tak apa, yang terpenting adalah kosongkan pikiran dari semua hal apapun di dunia ini, kecuali Allah, hanya ada Allah sebagai qiblat hati. Kita fokus menghadirkan Allah ke dalam diri, ini ibarat proses pembersihan atau pencucian kotoran atau sampah pikiran.

Baca juga : Everything in Life is Not Easy

Sedangkan, untuk menyucikan atau membersihkan hati, belajar lah melakukan penerimaan dan pemaafan terhadap segala peristiwa dan kejadian yang terjadi, pahamilah bahwa semua baik adanya, semua benar adanya sebagaimana mestinya dan seharusnya terjadi.

Menerima segala apapun yang terjadi dan tidak mengeluh atau menyesali apa yang telah terjadi, kejadian apapun yang dihadapi dan menimpa diri kita, semua hal itu adalah baik adanya, benar adanya sebagaimana mestinya harus terjadi.

Tak ada satu pun kejadian yang buruk atau tidak baik di dunia ini, sekali pun mata kita melihat hal itu amat buruk atau bahkan menyakitkan, sesungguhnya ia adalah mata rantai panjang yang saling sambung menyambung, saling susun menyusun antara satu peristiwa dengan peristiwa yang lain.

Baca juga : Turning Point and Rise Up

Seperti halnya saat banyak orang yang mungkin menganggap bahwa perang dunia 1 & 2, serta dijatuhkannya bom atom nuklir di Hirosima Jepang adalah sesuatu hal yang buruk. Tapi, sesungguhnya jika kita melihat utuh rangkaian semua peristiwa tersebut, justru kejadian perang dunia dan dijatuhkan bom atom adalah sesuatu yang sesungguhnya berdampak baik (walau pun harus bersusah payah terlebih dahulu).

Dengan terjadinya Perang Dunia 1 & 2 serta dijatuhkannya bom atom, kita bisa merasakan kehidupan dunia yang relatif lebih aman dan damai, dengan masa aman dan damai yang relatif lebih panjang dari masa-masa sebelumnya.

Rasa aman dan kedamaian global bisa kita rasakan lebih panjang jika dibandingkan masa-masa sebelumnya, walau pun saat ini belum seutuhnya hal tersebut bisa tercapai.

Baca juga : Tak Ada Kehidupan yang Sempurna

Tanpa adanya perang Dunia 1 & 2, serta dijatuhkannya bom atom, mungkin sampai sekarang peperangan antar negara atau kerajaan akan terus berlangsung, tak ada kedamaian dan rasa aman, yang ada hanya permusuhan dan saling curiga antar negara bangsa.

Dengan kejadian perang Dunia dan bom atom itulah akhirnya seluruh dunia bersepakat untuk membentuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), bersepakat untuk mengakhiri perang, bersepakat untuk hidup dengan damai dan aman, bersepakat untuk saling menghargai dan menghormati, bahkan bersepakat untuk saling bekerjasama satu sama lain.

Begitu pun dengan kejadian atau pun peristiwa yang menimpa diri, kita tak bisa melihat hanya secara parsial atau setengah-setengah, karena, setiap peristiwa atau kejadian, sesungguhnya adalah sebuah rangkaian yang saling menyusun satu sama lain, seperti rangkaian puzzle.

Baca juga : Law of Life 1 : Reaksi Sesuai Aksi

Kita tidak bisa mengatakan bahwa kejadian ini buruk, peristiwa ini menyedihkan, kejadian ini menyakitkan atau pun sebagainya. Karena, kita belum bisa melihat secara utuh rangkaian dari terjadinya peristiwa tersebut. Maka, setiap kejadian apapun yang hadir dan dilalui oleh diri kita, maka sesungguhnya semua hal itu adalah baik adanya, benar adanya sebagaimana harusnya terjadi.

Entah kejadian pahit atau manis, bahagia, duka, luka, derita, tangis, tawa, sukacita, atau apapun itu yang terjadi, semua hal itu dan segala yang terjadi di dalamnya adalah baik adanya, benar adanya sebagaimana harusnya terjadi.

Hal yang terpenting dari pada itu semua adalah bagaimana sikap kita selanjutnya, bagaimana cara kita menyikapi dan menghadapi kejadian atau segala peristiwa tersebut. Mau kah kita belajar dan terus bertumbuh, dengan berkaca melalui refleksi terhadap segala peristiwa yang terjadi dan mengambil berbagai pelajaran yang ada di dalamnya dengan utuh.(@sanik_rdfth)***

Baca seri selanjutnya : 4 Titik Fase dan Pola Hidup Manusia : Awaken Point

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama